JurnalOpini

Refleksi: Belajar dari Fenomena SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta

21
×

Refleksi: Belajar dari Fenomena SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta

Share this article
ghozali
Gozali (Kandidat Doktor Pendidikan Islam)

Untuk Menghadapi Tantangan Kepercayaan Masyarakat yang Luar Biasa, Bukan Menambah Kuantitasnya, tetapi Meningkatkan Kualitas.

Antrean panjang pendaftaran sekolah dasar di Yogyakarta yang mencapai hitungan tahun ke depan bukan sekadar fenomena administratif. Ia adalah penanda kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan. Salah satu contoh yang banyak diperbincangkan adalah SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, yang daftar tunggunya bahkan mencakup anak-anak yang belum memasuki usia sekolah.

Fenomena ini seharusnya tidak dibaca semata sebagai persoalan keterbatasan daya tampung. Lebih dari itu, ia mencerminkan pergeseran cara pandang orang tua: dari sekadar mencari sekolah terdekat menjadi mencari sekolah dengan mutu, nilai, dan sistem pendidikan yang diyakini mampu membentuk masa depan anak.

Di titik inilah muncul tantangan besar bagi dunia pendidikan. Ketika kepercayaan masyarakat meningkat tajam, godaan paling umum adalah menambah kuantitas—meningkatkan jumlah rombongan belajar, memperluas daya tampung, atau membuka kelas baru tanpa kesiapan menyeluruh. Langkah ini mungkin tampak solutif dalam jangka pendek, tetapi berisiko serius dalam jangka panjang. Rasio guru dan siswa menjadi tidak ideal, perhatian pendidik terpecah, dan kualitas layanan pendidikan perlahan menurun.

Pendidikan sejatinya bukan soal berapa banyak peserta didik yang dapat ditampung, melainkan seberapa baik setiap peserta didik dilayani. Ketika kualitas dikorbankan demi kuantitas, yang terjadi bukan pemerataan mutu, tetapi penurunan mutu secara sistemik. Sekolah menjadi penuh, tetapi proses pembelajaran kehilangan kedalaman dan sentuhan personal.

Karena itu, keputusan untuk tidak menambah kuota secara berlebihan justru patut dipahami sebagai sikap tanggung jawab moral. Menjaga kualitas berarti menjaga amanah kepercayaan publik. Setiap tambahan siswa bukan sekadar angka, tetapi tanggung jawab pendidikan, pembinaan karakter, dan masa depan yang dipertaruhkan.

Fenomena antrean panjang ini juga mengirim pesan penting bagi pemangku kebijakan pendidikan. Persoalan utamanya bukan hanya akses, melainkan ketimpangan kualitas antar sekolah. Selama mutu pendidikan belum merata, masyarakat akan terus menumpuk harapan pada sekolah-sekolah tertentu yang dianggap paling dapat dipercaya.

Solusi jangka panjangnya bukan memaksa satu sekolah menanggung beban kepercayaan sendirian, melainkan meningkatkan kualitas sekolah secara kolektif dan sistemik. Penguatan kompetensi guru, tata kelola sekolah yang profesional, serta konsistensi nilai dan budaya pendidikan harus menjadi prioritas utama.

Pada akhirnya, kepercayaan masyarakat yang luar biasa hanya dapat dijawab dengan kualitas yang dijaga secara konsisten. Bukan dengan memperbanyak bangku, tetapi dengan memperkuat makna pendidikan. Karena sekolah yang benar-benar besar bukanlah yang paling banyak muridnya, melainkan yang paling bermutu dampaknya bagi generasi masa depan.

*Dari berbagai sumber
Penulis : Gozali (Kandidat Doktor Pendidikan Islam)