SUMEDANG, Elshifa.net – Isu krisis lingkungan yang kian meluas secara nasional menjadi sorotan utama dalam kegiatan Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda, sebuah sarasehan tahun baru yang dihadiri ratusan aktivis lingkungan dan budayawan dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Kegiatan yang digelar di Gedung Negara Kabupaten Sumedang pada Sabtu, 24 Januari 2026, tersebut menjadi ruang diskusi lintas elemen. Para pegiat lingkungan, budayawan, akademisi, politisi, hingga mahasiswa berkumpul untuk menyuarakan kegelisahan bersama atas kerusakan alam yang dinilai semakin mengkhawatirkan dan berpotensi menimbulkan dampak luas yang sulit dikendalikan.
Sarasehan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Sumedang, Fajar Aldilla, yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Sumedang. Kehadiran pemerintah daerah menegaskan dukungan terhadap upaya kolektif penyelamatan lingkungan dan pelestarian budaya.
Sebelumnya, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir dijadwalkan menjadi salah satu pembicara utama dan bahkan telah menyambut langsung panitia serta para aktivis lingkungan pada Jumat malam, 23 Januari 2026. Namun, pada hari pelaksanaan, Bupati berhalangan hadir karena agenda kedinasan.
Selain itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, juga semula dijadwalkan tampil sebagai pembicara sentral. Kehadirannya batal lantaran harus menangani bencana alam yang terjadi di wilayah Bandung Barat.
Kegiatan Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda ini diprakarsai oleh para aktivis lingkungan dari Subang dan Garut, serta mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sumedang sebagai tuan rumah. Sedikitnya 250 peserta tercatat hadir, berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari aktivis lingkungan, budayawan, politisi, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, akademisi, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat.
Peserta datang dari beragam daerah, di antaranya Sumedang, Subang, Garut, Majalengka, Kuningan, Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor, Cianjur, Indramayu, Banten, hingga DKI Jakarta. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari tokoh masyarakat Subang, Urip Soeprianto atau yang dikenal sebagai Bos Urip, sebagai sponsor utama yang selama ini konsisten mendorong gerakan kepedulian terhadap lingkungan dan budaya.
Ketua Pokja Alam dan Budaya Cimanuk–Cipunagara, Muhammad Amin Muhyidin (Jhon), menjelaskan bahwa sarasehan ini lahir dari kegelisahan kolektif atas kondisi alam yang terus mengalami degradasi.
“Isu utamanya adalah gunung, mata air, dan sungai. Ketiganya sangat menentukan kehidupan manusia. Jika hutan rusak, mata air hilang, dan sungai tercemar, maka dampaknya pasti kembali kepada manusia,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi upaya untuk membangun kembali kesadaran bersama agar masyarakat menjaga alam sebagaimana nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur.
Senada dengan itu, panitia pelaksana sekaligus budayawan asal Garut, Ki Maher, menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari melemahnya nilai budaya di tengah masyarakat.
“Banjir, longsor, dan cuaca ekstrem adalah tanda kerusakan ekologi. Kita ingin mengajak masyarakat kembali kepada nilai budaya yang memuliakan alam. Alam dan budaya itu satu kesatuan,” jelasnya.
Menurutnya, Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda tidak akan berhenti sebagai agenda seremonial semata. Kegiatan ini direncanakan menjadi agenda tahunan yang digelar secara bergilir di berbagai daerah sebagai bagian dari gerakan kesadaran lingkungan berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar acara seremonial, tapi gerakan kesadaran bersama untuk menjaga alam demi masa depan,” pungkasnya.
Sumber : Genmilenial.id











