SUBANG – Kebijakan larangan study tour yang diberlakukan oleh Gubernur Jawa Barat mulai memberikan dampak nyata bagi pelaku industri pariwisata, khususnya di wilayah selatan Kabupaten Subang. Salah satu destinasi yang terkena imbas signifikan adalah D’Castello Subang, taman wisata ikonik dengan konsep taman bunga.
Sebelum aturan diberlakukan, kunjungan pelajar dalam bentuk rombongan sekolah menjadi tulang punggung kunjungan ke D’Castello. Namun kini, pihak pengelola harus melakukan penyesuaian strategi dengan menyasar segmen pasar baru, yakni kalangan korporat dan perusahaan.
Baca Juga : Viral Bersama ‘Sang Adik’, Siapa Sebenernya Andiri Permata ?
Kepala Tim Pemasaran D’Castello, Guntara, mengungkapkan bahwa perubahan arah pemasaran menjadi langkah adaptif yang harus ditempuh.
“Mayoritas pasar kami dari sekolah. Jadi setelah ada larangan study tour, kami berinovasi dengan menyasar pengunjung korporat,” jelasnya saat diwawancarai pada Senin (7/7/2025).
Kini, tim pemasaran D’Castello aktif menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan di wilayah Tangerang, Bekasi, Karawang, Purwakarta, hingga Serang, untuk mendatangkan rombongan wisatawan dewasa. Strategi ini diharapkan dapat menutup kekosongan pasar yang ditinggalkan oleh segmen pelajar.
Baca Juga : Seluruh Desa di Kalijati Wajib Kelola Sampah Berbasis Masyarakat, DLH Subang Sosialisasikan Instruksi Bupati
Sebagai bagian dari inovasi layanan, D’Castello juga meluncurkan promo tiket super hemat selama musim liburan anak sekolah. Dengan harga tiket hanya Rp90.000 hingga Rp100.000, pengunjung dapat menikmati hingga 19 wahana yang tersedia—dengan komposisi sekitar 40% wahana anak-anak dan 60% wahana dewasa.
Salah satu pengunjung, Celine Nathalia asal Depok, mengaku puas dengan penawaran tersebut.
“Pakai tiket super hemat, dong. Lumayan, dengan Rp90.000 bisa naik 19 wahana. Kalau beli tiket reguler kan bisa kena Rp250.000 lebih,” ungkapnya.
Baca Juga : Warga Sindangsari Gelar Syukuran, Air Bersih Kini Mengalir 24 Jam Berkat Perbaikan Perumda TRS
Langkah D’Castello Subang dinilai sebagai contoh konkret adaptasi sektor wisata di tengah perubahan regulasi. Dengan diversifikasi target pasar dan penawaran promo, destinasi ini berharap tetap menjadi pilihan rekreasi utama, meski tanpa dukungan dari segmen pelajar. (HM)