RagamInspiratifSubang

Dari Sawah ke Hilirisasi : Jejak Panjang Otong Wiranta Membangun Usaha Tani Berkelanjutan di Subang

14
×

Dari Sawah ke Hilirisasi : Jejak Panjang Otong Wiranta Membangun Usaha Tani Berkelanjutan di Subang

Share this article
Jejak Panjang Otong Wiranta Membangun Usaha Tani Berkelanjutan di Subang
Foto : Otong Wiranata, Petani Sukses Asal Subang juga menjabat Ketua KTNA Jawa Barat. (dok.Istimewa).

SUBANG, Elshifa.net – Jejak Otong Wiranta di dunia pertanian bermula dari pematang sawah. Sejak kecil, ia akrab dengan lumpur dan cangkul, menemani ayahnya yang berprofesi sebagai petani di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Awalnya hanya ikut bermain dan menghabiskan waktu di sawah, namun kebiasaan itu perlahan berubah menjadi proses belajar. Dari mencangkul hingga menanam padi, pengalaman masa kecil tersebut akhirnya mengantarkan Otong mengikuti jalan hidup sang ayah.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Otong menapaki dunia pertanian dengan bekal pendidikan formal. Ia menimba ilmu di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA), lalu bekerja di perusahaan agrochemicals. Di sela pekerjaannya, Otong melanjutkan studi di Universitas Winaya Mukti, Sumedang, hingga meraih gelar sarjana pertanian. Setelah bertahun-tahun bekerja di sektor swasta, ia mengambil keputusan besar, keluar dari perusahaan dan fokus membangun usaha tani sendiri.

Pada 2004, Otong memulai babak baru sebagai petani mandiri. Bermodalkan hasil kerja bertahun-tahun ia investasikan untuk membeli lahan sekitar 4.000 meter persegi. Pada fase awal, ia menggarap sawah seorang diri, menanam padi setiap musim tanam dan sesekali menanam jagung sebagai selingan. Lebih dari dua dekade berlalu, asam garam pertanian ia lalui tanpa banyak sorotan.

Kini, di usia 55 tahun, Otong sudah mengelola sawah seluas lebih dari dua hektare di Desa Sukamandijaya, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang. Pengalamannya di sektor swasta justru menjadi fondasi penting dalam mengembangkan usaha.

“Saya di swasta itu sambil nyari pengalaman mengelola usaha dan ternyata usaha tani itu salah satu sektor yang menguntungkan,” kata Otong saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Rabu (24/12).

Tak berhenti pada budidaya, Otong memperluas lini usahanya ke sektor hilir. Ia terlibat dalam penyediaan pupuk, produksi benih, hingga memasarkan beras hasil panennya sendiri.

“Jadi, keuntungan diperoleh tidak dari budidaya saja. Tapi dari penyediaan sarana produksinya (pupuk, pestisida dll). Dari produksi benih juga. Selain itu jika beras lagi bagus harganya, maka saya jadikan beras hasil panennya,” ujarnya.

Di tengah kesibukannya bertani dan berwirausaha, Otong juga aktif berorganisasi. Saat ini ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Barat. Dari pengalamannya, ia menilai tantangan pertanian kini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Perubahan iklim, serangan hama penyakit, serta kelangkaan tenaga kerja menjadi persoalan yang harus dihadapi petani setiap musim.

Sebagai salah satu lumbung padi Jawa Barat, Subang menempati posisi ketiga penghasil padi terbesar setelah Indramayu dan Karawang. Untuk menjaga produktivitas, pemupukan menjadi faktor krusial. Otong mengandalkan pupuk subsidi Urea dan Phonska, ditambah nutrisi semprot yang diaplikasikan beberapa kali dalam satu musim tanam. Pemupukan dilakukan dua hingga tiga kali, menyesuaikan fase pertumbuhan tanaman.

“Tanaman padi dari sebar itu bisa dipanen setelah umur 110-120 hari atau sekitar 4 bulan,” ujarnya. “Sekarang [kami] sudah selesai tanam dan melakukan pemupukan pertama,” imbuh Otong.

Ia membeli pupuk subsidi melalui jaringan PT Pupuk Indonesia (Persero). Menurutnya, dukungan pemerintah tahun ini sangat terasa, baik dari sisi kualitas maupun harga pupuk.

“Yang bikin petani tambah senang, harganya turun 20 persen. Harga pupuk Urea dari Rp2.250 per kg menjadi Rp1.800. Sedangkan Phonska dari Rp2.300 menjadi Rp1.840,” katanya.

Penurunan harga tersebut berdampak signifikan, mengingat kebutuhan pupuk padi cukup besar, yakni sekitar 500–550 kilogram per hektare setiap musim tanam. Otong juga mengaku puas dengan kualitas pupuk, baik subsidi maupun nonsubsidi.

“Alhamdulillah, hasil kami musim kemarin rata-rata 8-8,5 ton per musim. Penghasilan dari nilai uang itu sekitar Rp45-50 juta per hektare kotornya,” ujarnya.

Selain sebagai pengguna, Otong turut membantu memastikan distribusi pupuk subsidi berjalan merata. Petani yang terdaftar dalam kelompok tani dan e-RDKK dapat menebus pupuk sesuai alokasi.

“Untuk petani yang sudah menjadi anggota kelompok tani dan terdaftar di e-RDKK itu mereka tinggal datang aja ke kios yang ditunjuk,” ujarnya.

Ia juga memastikan ketersediaan pupuk nonsubsidi dari Pupuk Indonesia dengan ragam pilihan sesuai kebutuhan tanaman. “Pokoknya, petani bisa memilih jenis pupuk yang pas dengan kondisi tanaman,” ujarnya.

Pendampingan teknis menjadi nilai tambah lain yang dirasakan Otong. Pupuk Indonesia rutin turun ke lapangan memberikan edukasi, termasuk melalui Program Makmur (Mari Kita Majukan Usaha Rakyat).

“Setiap awal musim selalu ada pertemuan untuk teknik budidaya termasuk pemupukannya, yang hadir di antaranya ada dari Pupuk Indonesia,” katanya.

“Kecuali untuk petani yang mengikuti program Makmur maka pendampingan dilakukan secara penuh oleh Pupuk Indonesia,” tambahnya.

Program Makmur yang diluncurkan pada 28 Agustus 2021 di Subang ini mencakup pendampingan budidaya berkelanjutan, digital farming, akses permodalan, perlindungan risiko, hingga jaminan pasar bagi petani.

Dari sisi korporasi, Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), Yehezkiel Adiperwira, menyampaikan bahwa pemerintah telah menetapkan alokasi pupuk bersubsidi nasional tahun 2025 sebesar 9,55 juta ton.

“Pupuk Indonesia memastikan proses produksi berjalan optimal guna memenuhi kebutuhan pupuk nasional. Dengan dukungan jaringan distribusi yang mumpuni, kami juga terus memastikan ketersediaan pupuk mencukupi sehingga dapat ditebus oleh petani yang berhak,” kata Yehezkiel kepada CNNIndonesia.com.

Ia menjelaskan, sistem digital i-Pubers yang terintegrasi dengan e-RDKK memudahkan petani menebus pupuk hanya dengan KTP atau surat kuasa.

“Pupuk Indonesia siap mendukung tercapainya program prioritas pemerintah untuk mencapai swasembada pangan dengan memastikan ketersediaan stok dan kelancaran distribusi pupuk bersubsidi,” ujarnya.

Pemerintah menurunkan HET pupuk bersubsidi sebesar 20 persen pada 22 Oktober 2025. Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi.

Pihaknya melakukan pengawasan bersama pemerintah dan penegak hukum untuk memastikan implementasi HET berjalan dengan baik. Kios-kios yang melanggar, akan mendapat ditindak tegas.

“Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong daya beli petani dan produktivitas pertanian, yang dapat berkontribusi pada swasembada pangan,” katanya.

Lebih lanjut, Yehezkiel mengatakan Pupuk Indonesia memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi di seluruh Indonesia dalam kondisi mencukupi untuk mendukung produktivitas pertanian.

Hingga 15 Desember 2025, jumlah stok pupuk nasional mencapai 1 juta ton, dengan rincian pupuk subsidi sebesar 604 ribu ton dan nonsubsidi sekitar 407 ribu ton.

“Untuk penyaluran pupuk subsidi selama 2025 relatif berjalan dengan baik, dibuktikan dengan penyaluran sebesar 7,91 juta ton atau setara dengan 82,8 persen dari alokasi,” ujarnya.

Yehezkiel mengatakan di 2026, Pupuk Indonesia akan tetap fokus pada pengadaan pupuk berkualitas untuk mendukung tercapainya swasembada pangan sesuai alokasi yang telah dimandatkan Kementerian Pertanian.

Sejalan dengan itu, Pupuk Indonesia juga melanjutkan agenda efisiensi dan transformasi industri, salah satunya melalui program revitalisasi pabrik. Langkah ini semakin diperkuat dengan diterbitkannya Perpres No 113 Tahun 2025,

“Ini yang menjadi landasan kebijakan baru dalam tata kelola pupuk bersubsidi dan mendorong industri pupuk yang lebih efisien dan berkelanjutan,” katanya.

Otong dan rekan-rekannya sesama petani mengapresiasi jaminan pasok dan kualitas pupuk dari Pupuk Indonesia. Belum lagi dengan kebijakan penurunan harga pupuk nonsubsidi.

Menurutnya, kebijakan itu sangat membantu petani di tengah berbagai tantangan yang dihadapi para petani. Dengan pasokan dan kualitas pupuk yang terjamin, petani bisa terus menikmati hasil panen dalam jumlah besar.

Bagi Otong dan para petani lainnya, panen besar adalah sumber nafkah. Itu artinya, jaminan makan untuk keluarga dan biaya pendidikan anak-anak.

Otong berharap dari pertanian, ia bisa terus menafkahi keluarga dan menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya. Kini, anak pertamanya baru saja lulus dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Lalu yang kedua masih kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB).

“Yang satu pertanian, satunya manajemen. Mereka semua tidak ingin jadi pegawai. Tapi berusaha tani, baik di budidaya ataupun hilirisasinya,” ujarnya.

Di sawah yang sama tempat ia belajar mencangkul sejak kecil, Otong kini menanam harapan: pertanian yang mandiri, menguntungkan, dan berkelanjutan lintas generasi.

Sumber : CNNIndonesia