BeritaSubang

Diharapkan Menjadi Model Percontohan Pengelolaan Sampah Organik, As-Syifa Al-Khoeriyyah Menerima Kunjungan Badan Riset dan Inovasi Nasional

15
×

Diharapkan Menjadi Model Percontohan Pengelolaan Sampah Organik, As-Syifa Al-Khoeriyyah Menerima Kunjungan Badan Riset dan Inovasi Nasional

Share this article
9
sumber foto : reporter elshifa radio (Hanan Maulana)

SUBANG -Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah menerima kunjungan dari Pusat Riset Teknologi Tepat Guna, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Kabupaten Subang untuk meninjau teknis instalasi pengelolaan sampah menggunakan BSF, Kamis (09/02/2023).

Peninjauan dilaksankan diarea Peternakan Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah tempat dimana Magot dibudidayakan untuk mengurai sampah organik rumah tangga.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk menyelaraskan bagaimana pengelolaan sampah yang kini telah menjadi permasalahan di Kabupaten Subang dan Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah sudah mampu mengelola sampah organik terintegrasi secara mandiri dengan magot Lalat Tentara Hitam atau Black Soldier Fly (BSF).

Peneliti Ahli Muda BRIN Subang Yogi Himawan menyampaikan kedepannya akan berkolaborasi dengan para penggiat magot untuk menekan permasalahan sampah yang ada di Kabupaten Subang dan diharapkan pola-pola yang telah terapkan Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah mampu menjadi model percontohannya.

“kedepannya kita akan melibatkan para penggiat magot di Kabupaten Subang dalam rangka pengelolaan sampah secara terpadu, sehingga nantinya dapat berkurang sampah organiknya dan pola-pola di As-Syifa ini bisa menjadi model percontohannya”,terangnya.

Pengelolaan sampah organik dengan magot ini sangat berdampak signifikan, sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang biasanya mencapai 20 kali angkut kini hanya menjadi dua kali angkut.

Manajer Rumah Tangga AS-Syifa Jalancagak Ade Sunaryo menerangkan saat ini kebutuhan sampah organik untuk budidaya magot masih kurang dengan total kebutuhan mencapai dua ton sampah perhari namun baru tersuplai 600-900 Kilogram perhari. “kita kekurangan sampah setelah budidaya magot karena sampah kita setelah sampai ke tempat pengelola sampah ini hanya 600-900 kilogram perharinya sedangkan kita butuhnya dua ton perhari”, terangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *